Rabu, 30 November 2016

MAKALAH TASAWUF DAN PROBLEMATIKA EKONOMI


 
TASAWUF DAN PROBLEMATIKA EKONOMI
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah : Tasawuf Sosial
Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. M. Amin Syukur, MA



                                       

Disusun oleh :

·     Arina Khasnawati               (1504046047)


FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2016

I.                   PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kemajuan peradapan manusia dewasa ini ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dan ekonomi. Makin maju perkembangan suatu masyarakat dan bangsa, maka makin maju pula kehidupan bisnisnya.
Sebaliknya, makin merosot perkembangan bisnis suatu bangsa, maka makin merosot pula kehidupan bangsa itu. Indonesia saat ini misalnya dapat dikatakan terpuruk, karena kehidupan ekonomi dan bisnisnya mengalami kemerosotan sejak pertengahan 1997.
Kalau ingin Indonesia maju dan dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia, maka ia harus dapat memulihkan kembali kehidupan ekonomi dan bisnisnya selain memajukan pendidikan dan ipteknya. Karena dalam praktiknya perkembangan ekonomi tidak berjalan sendiri, tetapi selalu ditunjang oleh inovasi iptek.
Dengan demikian, perkembangan ekonomi merupakan indikator kemajuan atau kemunduran suatu bangsa. Sebagai bangsa yang ingin maju tentu saja kita berharap kehidupan ekonomi di negeri ini dapat segera pulih dan bergairah kembali.
B.     Rumusan Masalah
Ø  Apa yang dimaksud dengan tasawuf ?
Ø  Bagaimana tasawuf menjawab problematika ekonomi di zaman modern ini ?







II.                PEMBAHASAN
A.    Pengertian Tasawuf
Banyak dari para ahli berbeda pendapat mengenai pengertian tasawuf.
Ø  Kata tasawuf mulai dipercakapkan pada abad dua hijriyah yang dikaitkan dengan salah satu jenis pakaian kasar yang disebut shuff  (wol kasar). Kain sejenis itu sangat digemari oleh para zahid sehingga menjadi simbol kesederhanaan pada masa itu.
Ø  Sebagian kalangan berpendapat kata tasawuf berasal dari akar kata ash-shafa atau suffah artinya serambi masjid Nabawi. Pendapat ini dikaitkan dengan sekelompok muhajirin yang hidup dalam kesederhanaan di Madinah, dimana mereka selalu berkumpul di serambi masjid Nabawi.
Ø  Ada pula yang berpendapat tasawuf berasal dari kata shaff  yang artinya barisan, karena para sufi selalu pada barisan terdepan dalam mencari keridhoan Ilahi.
Ø  Pendapat lain memperkirakan kata tasawuf berasal dari kata shafa atau shafwun yang berarti bening, karena hati sufi selalu bening.
Ø  Sementara lainnya mengatakan, bahwa tasawuf berasal dari bahasa Yunani, yakni sophos yang berarti hikmah atau keutamaan. Menurut pendapat ini, para sufi ini adalah pencari hikmah atau ilmu hakikat.[1]
Dari definisi-definisi diatas, bisa ditarik kesimpulan bahwa tasawuf adalah ikatan spiritual transendental yang mempertautkan seorang sufi dengan Maula junjungannya dan menarik kepada-Nya sehingga ia tergugah melakukan lebih banyak ibadah dan amal ketaatan serta mengaktualisasikan seluruh akhlak mulia dalam perilakunya.
Prinsip dasar tasawuf adalah zuhud, kemudian menapak naik jenjang-jenjang maqamat dan ahwal, hingga mencapai tahap fana’ dari sesuatu selain Allah. Sedangkan tujuan idealistiknya adalah memperoleh ma’rifat yang sempurna dari Allah melalui jalur kasyf atau ilham.[2]



B.     Tasawuf dan Problematika Ekonomi
Kehidupan ekonomi akan membawa keuntungan semua pihak, seperti produsen, distributor, pemasok, konsumen, perbankan, pemerintah, dan masyarakat luas. Karena kegiatan ekonomi itu mencari untung yang sebesar-besarnya dengan ongkos yang sekecil-kecilnya. Untuk menjamin keuntungan bagi semua pihak dan tidak ada pihak yang dirugikan dalam kegiatan ekonomi, maka diperlukan peraturan hukum. Untuk itu, muncullah berbagai peraturan perundang-undangan, seperti undang-undang penanaman modal, undang-undang perbankan, undang-undang ketenagakerjaan, dan masih banyak lagi.
Namun peraturan hukum semata tidak dapat sepenuhnya mencegah terjadinya perbuatan curang, seperti korupsi misalnya dapat merugikan ekonomi negara. Karena itu, selain peraturan hukum diperlukan perangkat lain yang bisa mencegah terjadinya kecurangan, disini peran tasawuf sangat diperlukan. Tasawuf dapat mencegah orang yang berbuat curang, karena tasawuf bersumber dari hati nurani.[3]
Salah satu ajaran tasawuf adalah qana’ah (menerima apa adanya). Orang yang qana’ah hatinya akan penuh dengan iman kepada Allah. Menurut Muhammad bin Ali at-Tirmidzi qana’ah adalah kepuasan jiwa terhadap rezeki yang diberikan.[4] Jika seseorang merasa puas terhadap apa yang didapatkan, hatinya akan menjadi qana’ah, dan orang-orang yang bersikap qana’ah akan mudah untuk bersyukur kepada Allah.
Jika sikap qana’ah diterapkan pada zaman modern ini, akan sangat membantu problematika ekonomi yang melanda bangsa kita. Karena orang yang bersikap qana’ah selalu ikhlas menerima kenyataan hidup, tidak banyak berangan-angan, dan tidak bersikap iri terhadap nikmat yang diterima orang lain.[5]
Ajaran tasawuf yang lain adalah syukur. Al-jailani menafsirkan bahwa orang yang bersyukur adalah mereka yang berterima kasih atas banyaknya karunia Allah yang telah diberikan dan menggunakan sesuai haknya. Kenikmatan yang diberikan kepada Allah seharusnya digunakan untuk kebaikan sesuai dengan fungsinya dan tidak menggunakan kenikmatan itu untuk hal-hal yang dilarang oleh Allah.
Dengan demikian, kesyukuran bukan semata dengan ucapan, tetapi adalah tindakan kebaikan sesuai dengan kadar yang diberikan Allah. Seseorang yang tidak menggunakan kenikmatan dan fasilitas yang diberikan oleh Allah, seperti rejeki, kesehatan, kekuatan untuk kebaikan berarti ia adalah orang yang tidak bersyukur atau kufur terhadap nikmat Allah.[6]
Dalam sebuah hadist diriwayatkan imam muslim yang artinya “lihatlah orang yang dibawah kalian dan janganlah orang yang berada diatas kalian. Sebab itu, akan mendidik kalian untuk tidak meremehkan nikmat Allah”. Hadist diatas menganjurkan kita untuk bersyukur, karena dengan bersyukur kita terhindar dari sifat tamak terlebih kecenderungan untuk korupsi.
Sementara itu, zuhud juga penting dalam menangani problematika ekonomi pada saai ini. Zuhud adalah menjauhkan diri dari segala hal yang bersifat duniawi. Orang yang bersikap zuhud tidak menginginkan segala bentuk materi duniawi dan hanya akan menyandarkan segala kebutuhannya kepada Allah. Jika seseorang mempunyai sikap zuhud walaupun dia adalah seorang pejabat yang kaya raya, dia tidak akan tertarik dengan gemerlap dunia. Orang yang mementingkan akhirat dan tidak peduli dengan kekayaan dunia akan senantiasa berbuat baik tanpa memperdulikan kondisi kehidupannya di dunia. Oleh karenanya orang yang demikian akan berupaya menjalankan perintah Allah, meskipun untuk itu ia harus bersusah-susah di dunia. [7]
Banyaknya kasus suap dan korupsi di indonesia akhir-akhir ini dikarenakan mereka tidak berhati-hati terhadap apa yang mereka terima. Salah satu ajaran tasawuf yang efisien digunakan untuk kasus ini adalah wara’. Wara’ berarti menahan diri terhadap hal-hal yang diharamkan, terhadap sesuatu yang tidak jelas atau belum jelas hukumnya (subhat), dan terhadap hal yang halal jika dilakukan akan menimbulkan kekhawatiran untuk menjerumuskan diri ke dalam perbuatan yang diharamkan. [8]
III.             PENUTUP
Kesimpulan
Tasawuf adalah ikatan spiritual transendental yang mempertautkan seorang sufi dengan Maula junjungannya dan menarik kepada-Nya sehingga ia tergugah melakukan lebih banyak ibadah dan amal ketaatan serta mengaktualisasikan seluruh akhlak mulia dalam perilakunya.
Kehidupan ekonomi akan membawa keuntungan semua pihak, seperti produsen, distributor, pemasok, konsumen, perbankan, pemerintah, dan masyarakat luas. Untuk menjamin keuntungan bagi semua pihak dan tidak ada pihak yang dirugikan dalam kegiatan ekonomi, maka diperlukan peraturan hukum. Untuk itu, muncullah berbagai peraturan perundang-undangan, seperti undang-undang penanaman modal, undang-undang perbankan, undang-undang ketenagakerjaan, dan masih banyak lagi.
Namun peraturan hukum semata tidak dapat sepenuhnya mencegah terjadinya perbuatan curang, seperti korupsi misalnya dapat merugikan ekonomi negara. Karena itu, selain peraturan hukum diperlukan perangkat lain yang bisa mencegah terjadinya kecurangan, disini peran tasawuf sangat diperlukan. Tasawuf dapat mencegah orang yang berbuat curang, karena tasawuf bersumber dari hati nurani.
Qana’ah, syukur, zuhud, dan wara’ merupakan ajaran tasawuf yang relevan dalam mengatasi problematika ekonomi di era modern ini. Inilah makna penting tasawuf dalam mengatasi problematika ekonomi di era modern.












DAFTAR PUSTAKA
Hajjaj, Muhammad Fauqi. 2011. Tasawuf Islam &Akhlak Jakarta; Amzah.
Lukman Hakiem, Muhammad. 2006.  Risalah Qusyairiyah (Induk Ilmu Tasawuf), Surabaya: Risalah Gusti.
Muhammad, Hasyim. 2015.  Psikologi Qur’ani, Semarang: CV. Karya Abadi Jaya.
Siregar, A. Rivay.1999. Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufismie, Jakarta; PT Raja Grafindo Persada.
Tebba, Sudirman. 2003. Tasawuf Positif, Jakarta; PRENADA MEDIA.





[1] Prof H. A. Rivay Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufismie (Jakarta; PT Raja Grafindo Persada, 1999)  hal 31-32
[2] Dr. Muhammad Fauqi Hajjaj, Tasawuf Islam &Akhlak (Jakarta; Amzah. 2011) hal 12
[3] Sudirman Tebba, Tasawuf Positif (Jakarta; PRENADA MEDIA, 2003) hal 181-183
[4] Muhammad Lukman Hakiem, Risalah Qusyairiyah (Induk Ilmu Tasawuf), (Surabaya: Risalah Gusti, 2006), hal 174
[5] Dr. Hasyim Muhammad M.Ag, Psikologi Qur’ani, (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya. 2015)  hal 72

[6] Ibid, Hal 63
[7] Ibid, Hal 50
[8] Ibid, hal 37

                                       


Kamis, 17 November 2016

Makalah Fathul Makkah


FATHUL MAKKAH (PENAKLUKAN MAKKAH)
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah : Sirah Nabawi
Dosen Pengampu : Dr. H. Abdul Muhaya, M.A


logo uin.png


Disusun oleh :

·     Cindi Rona Kumala            (1504046031)
·     Arina Khasnawati                (1504046047)


FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2016
I.                   PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perintah Allah untuk menanamkan agama ini telah sempurna. Demikian pula pendidikan kepada kaum muslimin, dan cobaan-cobaan Allah atas hati mereka agar bertaqwa. Gelas kaum Quraisy telah dipenuhi oleh kedzaliman dan permusuhan, kebencian mereka akan kebenaran, rintangan di jalan menuju Allah , dan peperangan terhadap Islam dan pemeluknya. Oleh karenanya, Allah berkehendak untuk memasukkan kaum muslimin ke kota Makkah dengan merdeka dan menang. Mereka akan mensucikan ka’bah dari najis dan kotoran serta hal-hal keji, dan mengembalikan kota Makkah pada keadaan semula. Sehingga Makkah menjadi tempat mencari pahala bagi manusia dan rasa aman, serta menjadikan ka’bah sebagai tempat yang penuh berkah dan petunjuk bagi seluruh alam.
Disadari bahwa masih banyak bidang Sirah Nabawiyah yang dapat dikemukakan. Namun, keterbatasan yang ada menyebabkan kajian ini belum mencakup seluruhnya. Insyaallah pada lain kali, kita dapat mencoba menjamah aspek Sirah Nabawi lebih dalam lagi.
B.     Rumusan Masalah
·         Bagaimana Latar belakang terjadinya Fathu Makkah?
·         Bagaimana proses terjadinya Fathu Makkah?
·         Bagaimana khutbah nabi setelah Fathu Makkah?












II.                PEMBAHASAN
A.    Latar Belakang terjadinya Fathu Makkah
Dalam salah satu pasal perjanjian Hudaibiyah disebutkan bahwa orang-orang bebas untuk bergabung dengan kelompok Muhammad atau golongan Quraisy. Maka, Bani Khuza’ah dengan senang hati bergabung dengan kepada Muhammad saw.[1] Dikisahkan setelah menandatangani perjanjian Hudaibiyah, bani Khuza’ah bersekutu dengan Rasulullah, sedangkan bani Bakr bersekutu dengan golongan Quraisy. Kedua suku tersebut pada masa jahiliyah sering terlibat dalam permusuhan dan pertumpahan darah. Ternyata api kedengkian masih menyala di hati bani Bakr, sehingga mereka memiliki hasrat untuk menlancarkan serangan ke bani Khuza’ah dengan meminta bantuan kepada para pembesar Quraisy.[2]
Pada suatu malam, Bani Bakr menyerang Bani Khuza’ah yang tinggal di dekat sebuah mata air bernama al-Watir, mata air ini berada di daerah Makkah Hilir. Mereka dibantu oleh beberapa orang Quraisy, orang-orang Quraisy berkata: “Muhammad tidak akan mengetahui tindakan ini, dan semoga malam ini tidak ada satu orang pun yan melihat kita.” Mereka juga memberikan bantuan persenjataan dan kendaraan kepada Bani Bakr dalam penyerangan terhadap Bani Khuza’ah.[3] Mereka menyerang Bani Khuza’ah secara membabi buta ketika mereka sedang lalai, sehingga mereka berhasil membunuh lebih dari dua puluh orang.
Maka, ‘Amr ibn Salim al-Khuza’i dari bani Khuza’ah pun berangkat ke Madinah untuk meminta bantuan dari kaum Muslimin. Sesampainya di hadapan Rasulullah saw, ‘Amr ibn Salim al-Khuza’i mengutarakan maksud kedatangannya itu melalui beberapa bait syair yaitu:
Ya Allah, aku menyeru Muhammad
Akan persekutuan antara ayahnya dan ayah kami yang
Mereka adalah para orang tua dan kita pada waktu itu masih kanak-kanak
Dengan persekutuan itu kami tunduk dan kami tidak melepaskannya.


Hingga baitnya:
Mereka menyerangi kami di malam buta
Mereka juga menyerangi kami saat kami sedang rukuk dan sujud.
Rasulullah berkata, “Kalian harus dibantu, Amr ibn Salim!
Sebentar kemudian, datang Budail bin Warqa bersama beberapa orang Khuza’ah kepada Rasulullah. Budail memberi tahu Rasulullah tentang kaum Quraisy yang telah melanggar kesepakatan, setelah itu mereka kembali ke Makkah. Rasulullah saw berkata kepada sahabatnya “Sepertinya Abu Sufyan datang untuk memperbarui perjanjian dan menambahkan temponya!”.[4]
Adapun menurut riwayat yang paling mashur, ketika kaum Quraisy menyadari kesalahannya, mereka segera mengutus Abu Sufyan ke Madinah sebelum kaum muslim mendengar kabar pelanggaran yang mereka lakukan. Riwayat lain menuturkan: setibanya di Madinah Abu Sufyan tidak langsung menemui Rasulullah, tetapi terlebih dahulu menemui putrinya yang juga istri Rasulullah, Ummu Habibah, ketika Abu Sufyan hendak duduk diatas alas Rasulullah saw, Ummu Habibah bergegas melipat alas itu. Sontak, Abu Sufyan pun terperangah dan kemudian bertanya: “Wahai putriku, adakah engkau melipatnya karena memang tidak bisa dipakai ataukah memang alas itu tidak boleh aku duduki?” Ummu Habibah menjawab: “Ini adalah alas Rasulullah, sedangkan ayah adalah seorang musyrik yang kotor. Itulah makanya, aku tidak suka engkau duduk diatasnya”.[5] Lantas Abu Sufyan datang Kepada Rasulullah dan berbicara kepada beliau, tetapi beliau tidak berbicara sepatah kata pun. Kemudian Abu Sufyan pergi ke kepada Abu Bakar, Umar, Fatimah, dan yang terakhir Ali bermaksud untuk meminta bantuan membujuk Rasulullah agar mau berbicara dengannya. Akhirnya Abu Sufyan kembali ke Makkah dengan tangan hampa.[6]
B.     Proses Fathu Makkah (Pembukaan kota Makkah)
Tak lama kemudian, Rasulullah memerintahkan kaum muslimin untuk brsiap-siap. Tapi, beliau sama sekali tidak mengatakan hendak kemana mereka akan dibawa pergi. Tujuan itu beliau katakan beberapa waktu kemudian “Kita akan menyerbu Makkah, maka bersiap siagalah”. Sabda beliau beberapa waktu sebelum berangkat seraya nmemerintahkan kaum muslimin cepat-cepat menyiagakan diri.[7] Rasulullah saw bertekad untuk memerangi kaum Quraisy dan menaklukan Makkah, karena mereka telah melanggar kesepakatan secara terang-terangan. Beliau pun bersiap-siap dan memerintahkan para sahabatnya untuk melakukan hal yang sama. Lalu beliau berdo’a “Ya Allah, buta dan tulikanlah orang-orang Quraisy dari berita kami ini, agar kami bisa menyergap mereka dengan tiba-tiba.[8]
Rasulullah saw juga mengundang seluruh kaum muslimin dari berbagai suku dan kabilah yang berada di sekitar Madinah untuk ikut dalam penyerangan ini. Tercatat, suku sulaiman, Asyja’, Muzainah, Aslam dan Ghifar ikut mengirimkan utusan masing-masing. Mereka ada yang langsung datang berduyun-duyun ke Madinah dan ada juga yang bergabung dalam perjalanan. Walhasil, jumlah mereka mencapai 10.000 tentara, bahkan, tidak ada seorang pun dari kaum Muhajirin maupun Anshor yang tertinggal.
Begitu Rasulullah saw siap berangkat, Hathib bin Abi Balta’ah al-Badri mengirim surat kepada orang-orang musyrik Quraisy di Makkah. Surat itu diantar oleh seorang kurir wanita yang diupah. Adapun isinya, memberi tahu rencana kedatangan Rasulullah saw dan pasukannya. Rasulullah saw mengetahui hal ini melalui wahyu. Maka beliau segera menugaskan Ali, Zubair, dan Miqdad untuk mengejar wanita tersebut. Beliau berpesan “Pergilah kalian berdua ke Raudhah khah, karena disana ada seorang wanita yang membawa surat untuk kaum Quraisy”. Setelah menemukan wanita itu di tempat yang dimaksud, mereka memintanya untuk memberikan surat yang dibawa olehnya. Akan tetapi, wanita itu tidak mengaku membawa surat tersebut. Maka, ketiganya pun menggertak wanita itu. Salah satu dari mereka berkata “Keluarkan surat itu, atau kami akan menggeledah barang-barangmu!”. Akhirnya, wanita itu mau mengeluarkan surat yang disembunyikannya.
Para ahli sejarah dan sirah nabi sepakat bahwa Rasulullah saw berangkat untuk menaklukan kota Makkah pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah. Dalam perjalanan ini, mereka semua tetap berpuasa, sesampainya di kadid Rasulullah saw berbuka dan diikuti oleh kaum muslimin yang bersamanya. Selama meninggalkan Madinah, Rasulullah saw menunjuk Abu Rihmin Kaltsum ibn Hashim ibn ‘Atabah ibn Khallaf al-Ghifari untuk mengendalikan semua urusan pemerintahan Madinah.[9]
Sesampainya di Marru adz-Dzahran Rasulullah saw memerintahkan pasukannya agar menyalakan api yang besar. Saat itu Abu Sufyan mencari berita secara diam-diam dan berkata “Aku sama sekali tidak pernah melihat api dan markas tentara seperti pada malam ini”. Saat itu, Abbas bin Abdul Muthalib telah keluar dari Makkah dengan keluarga dan sanak saudaranya untuk berhijrah dan bertemu Rasulullah saw. Ia mengenali suara Abu Sufyan dan berkata: “Itu adalah Rasulullah saw di tengah-tengah manusia”. Al-Abbas kemudian menaikkan Abu Sufyan keatas keledainya. Ia khawatir kalau ada seorang muslim yang mendapatkan Abu Sufyan dan membunuhnya.[10] Kemudian ketika Abbas menghadapkan Abu Sufyan kepada Rasulullah saw, beliau mengajak Abu Sufyan untuk masuk Islam. Namun, malam itu Abu Sufyan masih ragu-ragu dengan Islam dan mendebat beliau hingga larut malam. Maka, Rasulullah saw meminta Abbas untuk membawa Abu Sufyan ke tendanya dan membawanya kembali menemui Rasulullah keesokan harinya.
Al-Abbas membawa Abu Sufyan ke tempat istirahatnya, esok paginya mereka menghadap Rasulullah saw, ketika Rasulullah melihat Abu Sufyan beliau berkata “Celakalah engkau wahai Abu Sufyan, apakah belum tiba waktu bagimu untuk mengetahui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah swt?”
Abu Sufyan menjawab “Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu! Aku sangat menghormati, memuliakan, dan menghargai engkau, demi Allah aku telah meyakini bahwa tiada tuhan selain Allah”.
Rasulullah saw bersabda “Celakalah engkau wahai Abu Sufyan, apakah belum tiba waktu bagimuuntuk meyakini bahwa aku utusan Allah?”
Abu Sufyan menjawab “Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu!” sungguh engkau amat mulia, namun demi Allah, dihatiku masih terdapat ganjalan hingga saat ini”.
Al-Abbas menyahut “Celakalah engkau wahai Abu Sufyan, masuklah Islam, bersaksilah bahwa tiada tuhan selain yang wajib di sembah selain  Allah dan Muhammad saw adalah utusan Allah, sebelum aku memenggal lehermu”. Akhirnya, Abu Sufyan bersaksi dengan syahadat dengan benar dan telah masuk Islam.
Al-Abbas bin Mutholib berkata “Wahai Rasulullah, Abu Sufyan adalah orang yang senang dengan kebanggaan, untuk itu berikanlah sesuatu kepadanya”. Rasulullah saw bersabda “Ya, barang siapa memasuki rumah Abu Sufyan dia aman, barang siapa menutup pintu rumahnya dia aman, barang siapa memasuki Masjidil Haram, dia aman”. Setelah itu Abu Sufyan pergi, kemudian Rasulullah saw bersabda kepada pamannya, Al-Abbas “Tahanlah Abu Sufyan di mulut lembah sampai ia dapat menyaksikan kaum muslimim”. Al-Abbas kemudian keluar dan segera menahan Abu Sufyan di tempat yang telah diperintahkan oleh Rasulullah.
Tidak lama kemudian, berbagai kabilah melewatinya dengan membawa bendera masing-masing. Setiap satu kabilah lewat, Abu Sufyan bertanya “Hai Abbas, siapa ini?” Abbas menjawab “Ini adalah kabilah Sulaiman”. Abu sufyan berkata “Apa urusanku dengan kabilah ini?”. Setiap kali kabilah-kabilah lewat Abu Sufyan selalu bertanya dan menanggapi “Apa urusanku dengan kabilah ini”. Hingga lewatlah kabilah Anshar dengan panji yang dibawa oleh Sa’ad bin Ubadah Al-Anshari, saat itu Sa’ad berkata kepada Abu Sufyan “Wahai Abu Sufyan, hari ini adalah hari pembantaian. Hari ini dibolehkan melakukan sesuatu yang dilarang di ka’bah”. Rasulullah saw lekas bersabda “Sa’ad telah berbohong, akan tetapi hari ini adalah hari dimana Allah swt mengangungkan ka’bah”.
Kemudian datanglah pasukan berkuda yang didominasi warna hijau, dan setiap diri mereka diliputi baju besi. Abu Sufyan bertanya “Maha suci Allah wahai Abbas, siapa mereka?”. Abbas menjawab “Itulah Rasulullah saw bersama kaum muhajirin dan Anshar dengan panji yang dibawa oleh Zubair bin Awwam”. Abu Sufyan berkata “Tidak ada satu pun orang yang mempunyai kekuatan untuk menghadapi mereka. Demi Allah, kerajaan Rasulullah besok pagi menjadi sangat agung.” Abbas menyahut “Itulah kenabian, sekarang pergilah ke kaummu”.[11]
Rasulullah dan rombongan terus berjalan hingga sampai di Dzu Tuwa. Beliau tetap duduk diatas tunggangannya dengan mengenakan burdah berwarna merah dengan gagah. Setelah itu, beliau memecah-mecah pasukannya. Rasulullah memerintahkan Khalid bin Walid bersama pasukannya untuk masuk melalui Laith, dataran rendah Makkah. Posisi Khalid adalah di sebelah kanan, sementara Zubair berada di sebelah kiri kota Makkah. Sementara Abu Ubaid maju kedepan membawa barisan kaum muslimin yang ada di hadapan Rasulullah.
Dikisahkan bahwa Rasulullah masuk Makkah pada Jum’at pagi 20 Ramadhan. Dengan khidmat dan rasa syukur, seraya membaca surat al-Fath, Rasulullah memasuki kota Makkah melalui sebelah atas dari arah Kida’. Beliau membaca surat ini secara berulang-ulang. Rasulullah merendahkan kepalanya hingga jenggotnya menyentuh punggung kendaraannya. Ini karena beliau merasa rendah di mata Allah yang telah memberikan penghirmatan kepada beliau. Rasulullah berpesan kepada para pemimpin pasukan agar tidak membunuh kecuali orang yang melawan dan memerangi mereka. Sementara itu, jumlah korban tewas dari kaum musyrikin saat itu adalah 12 sampai 13 orang.
Tak lama kemudian, Rasulullah saw thawaf sebanyak tujuh kali dan mencium Hajar Aswad. Rasulullah kemudian memerintahkan pembersihan ka’bah dari berhala-berhala. Bahkan beliau ikut terjun langsung menghancurkan berhala-berhala itu dengan tangan beliau sendiri. Kemudian beliau berkata “Kebenaran telah datang dan kebatilan telah sirna, orang yang batil tidak akan tampak lagi dan tidak akan kembali”. Lalu Rasulullah memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan. Setalah Baitul Haram benar-benar bersih dari berhala, Rasulullah saw baru mengirim utusan-utusan ke berbagai penjuru daerah untuk membersihkan patung-patung berhala yang masih ada.[12]
Beberapa waktu kemudian, orang-orang berkumpul untuk melakukan baiat kepada Rasulullah saw. Mereka di baiat untuk patuh dan setia kepada Allah dan Rasul-Nya. Akhirnya, masuklah bangsa Arab ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong sebagai mana firman Allah Q.s an-Nashr 1-3 yang artinya: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondog-bondong ,maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya . Sesungguhnya Dia adalah Maha penerima taubat”.
C.     Khutbah Wada’
Selama berada di Makkah setelah penaklukan usai, Rasulullah saw sempat menyampaikan beberapa khutbahnya, Rasulullah saw menerangkan berbagai ajaran Islam dan beberapa prinsip hukumnya. Dalam khutbah pertama yang disampaikan didepan pintu ka’bah Rasulullah saw menjelaskan tentang pembayaran diyat (tebusan) orang yang terbunuh secara tidak sengaja dan penghapusan adat istiadat Jahiliyah selain tradisi menjamu para jamma’ah haji dan pemeliharaan Ka’bah.
Adapun Khutbah kedua, Rasulullah saw mengumumkan “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam Islam itu tidak ada istilah persekutuan diantara kalian yang telah terjadi sejak zaman jahiliyah, maka Islam akan memperkuatnya. Kaum Mu’minin itu bersaudara, merupakan satu tangan dekat dengan saudaranya, membela yang jauh, membantu yang dekat, yang kaya membantu yang papa, dan yang berjalan menolong yang lumpuh. Seorang Mu’min todak boleh membunuh orang kafir. Tebusan orang kafir adalah separuh tebusan orang Muslim. Tidak diperkenankan menggelapkan atau menyisihkan uang zakat dan tidak boleh mengambil shadaqah muslimim kecuali dari apa yang dirumah-rumah mereka.”
Pada khutbah ketiga, Rasulullah saw mengumumkan kehormatan tanah Makkah, keharaman berburu binatang-binatang di Makkah, memotong rerumputan Makkah, pohon-pohon Makkah, dan harta temuan Makkah. Rasulullah menuturkan bahwa Allah Swa menghalalkan berperang di Makkah kepada Rasulullah saw hanya beberapa waktu saja, yaitu pada penaklukan Makkah. Rasulullah juga bersabda bahwa tidak ada lagi hijrah setelah penaklukan kota Makkah akan tetapi, jihat dan niat masih tetap berjalan.
Pada khutbah keempat, Rasulullah saw menjelaskan bahwa barag siapa melakukan tindak pembunuhan dan ada saksi mata yang melihatnya, maka si pembunuh wajib membayar tebusan atau dihukum.[13]





























III.             PENUTUP
Kesimpulan
Dalam salah satu pasal perjanjian Hudaibiyah disebutkan bahwa orang-orang bebas untuk bergabung dengan kelompok Muhammad atau golongan Quraisy. Maka, Bani Khuza’ah dengan senang hati bergabung dengan kepada Muhammad saw. Dikisahkan setelah menandatangani perjanjian Hudaibiyah, bani Khuza’ah bersekutu dengan Rasulullah, sedangkan bani Bakr bersekutu dengan golongan Quraisy. Kedua suku tersebut pada masa jahiliyah sering terlibat dalam permusuhan dan pertumpahan darah.
Dikisahkan bahwa Rasulullah masuk Makkah pada Jum’at pagi 20 Ramadhan. Dengan khidmat dan rasa syukur, seraya membaca surat al-Fath, Rasulullah memasuki kota Makkah melalui sebelah atas dari arah Kida’. Beliau membaca surat ini secara berulang-ulang. Rasulullah merendahkan kepalanya hingga jenggotnya menyentuh punggung kendaraannya. Ini karena beliau merasa rendah di mata Allah yang telah memberikan penghirmatan kepada beliau. Rasulullah berpesan kepada para pemimpin pasukan agar tidak membunuh kecuali orang yang melawan dan memerangi mereka.
Selama berada di Makkah setelah penaklukan usai, Rasulullah saw sempat menyampaikan beberapa khutbahnya, Rasulullah saw menerangkan berbagai ajaran Islam dan beberapa prinsip hukumnya. Dalam khutbah pertama yang disampaikan didepan pintu ka’bah Rasulullah saw menjelaskan tentang pembayaran diyat (tebusan). Adapun Khutbah kedua, Rasulullah saw mengumumkan “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam Islam itu tidak ada istilah persekutuan diantara kalian yang telah terjadi sejak zaman jahiliyah, maka Islam akan memperkuatnya. Pada khutbah ketiga, Rasulullah saw mengumumkan kehormatan tanah Makkah, keharaman berburu binatang-binatang di Makkah, memotong rerumputan Makkah, pohon-pohon Makkah, dan harta temuan Makkah. Pada khutbah keempat, Rasulullah saw menjelaskan bahwa barag siapa melakukan tindak pembunuhan dan ada saksi mata yang melihatnya, maka si pembunuh wajib membayar tebusan atau dihukum.




DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Mahdi Rizqullah. 2005. Biografi Rasulullah, Jakarta: Qisthi Press.
Al-Jaziri, Abu Bakar Jabir. 2008. Muhammad My Beloved Prophet, Jakatra: Qisthi Press.
An-Nadhwi , Abul Hasan ‘Ali Al-Hasani2007. Sirah Nabawiyah, Yogyakarta:Mardhiyah Press.
Ibrahim, Fauzi. 2008. Muhammad saw (Makhluk paling Mulia), Yogyakarta: Citra Risalah.
Musyafiq, Ahmad. 2015. Pengantar Sirah Nabawiyah, Semarang: CV. Karya Abadi Jaya.





[1] DR. Mahdi Rizqullah Ahmad, Biografi Rasulullah, (Jakarta: Qisthi Press. 2005) hal 698
[2] Fauzi Ibrahim, Muhammad saw (Makhluk paling Mulia), (Yogyakarta: Citra Risalah, 2008) hal 325
[3] DR. Mahdi Rizqullah Ahmad, Biografi Rasulullah, (Jakarta: Qisthi Press. 2005) hal 698
[4] Abu Bakar Jabir Al-jaziri, Muhammad My Beloved Prophet, (Jakatra: Qisthi Press. 2008) hal 470
[5]  DR. Mahdi Rizqullah Ahmad, Biografi Rasulullah, (Jakarta: Qisthi Press. 2005) hal 699-700
[6] Abul Hasan ‘Ali Al-Hasani An-Nadhwi, Sirah Nabawiyah, (Yogyakarta:Mardhiyah Press, 2007) hal 403
[7] DR. Mahdi Rizqullah Ahmad, Biografi Rasulullah, (Jakarta: Qisthi Press. 2005) hal 700
[8] Abu Bakar Jabir Al-jaziri, Muhammad My Beloved Prophet, (Jakatra: Qisthi Press. 2008) hal 472
[9] Ahmad Musyafiq, Pengantar Sirah Nabawiyah, (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015), hlm 230
[10] Abul Hasan ‘Ali Al-Hasani An-Nadhwi, Sirah Nabawiyah, (Yogyakarta:Mardhiyah Press, 2007) hal 405

[11] Fauzi Ibrahim, Muhammad saw (Makhluk paling Mulia), (Yogyakarta: Citra Risalah, 2008) hal 331-333
[12] Abu Bakar Jabir Al-jaziri, Muhammad My Beloved Prophet, (Jakatra: Qisthi Press. 2008) hal 478
[13] Ahmad Musyafiq, Pengantar Sirah Nabawiyah, (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015), hlm 238-239